<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bittersweet Words</title>
	<atom:link href="http://storiesbyputilicious.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://storiesbyputilicious.wordpress.com</link>
	<description>Kumpulan Karya Seorang Pengkhayal</description>
	<lastBuildDate>Thu, 18 Dec 2008 17:14:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='storiesbyputilicious.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bittersweet Words</title>
		<link>http://storiesbyputilicious.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://storiesbyputilicious.wordpress.com/osd.xml" title="Bittersweet Words" />
	<atom:link rel='hub' href='http://storiesbyputilicious.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Yang Penting Isinya</title>
		<link>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/17/yang-penting-isinya/</link>
		<comments>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/17/yang-penting-isinya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 05:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>storiesbyputilicious</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://storiesbyputilicious.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Title: Yang Penting Isinya Fandom: Original Fic Genre: Comedy/Romance Rating: T Disclaimer: ceritanya punya saia lah… nama Florecita diambil dari telenovela berjudul sama yang ditayangin waktu saia kelas 6, dan Patra itu nama penyiar di Trax FM “Aduuh, liat deh si Freya, makin hari makin cakep aja… makin tinggi, tapi tetep kurus, hebat ya! Waah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesbyputilicious.wordpress.com&amp;blog=5870921&amp;post=13&amp;subd=storiesbyputilicious&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#80a0ff;"><strong>Title: Yang Penting Isinya<br />
Fandom: Original Fic<br />
Genre: Comedy/Romance<br />
Rating: T<br />
Disclaimer: ceritanya punya saia lah… nama Florecita diambil dari telenovela berjudul sama yang ditayangin waktu saia kelas 6, dan Patra itu nama penyiar di Trax FM <img src="http://209.85.122.83/2/117/0/e8896/e8896.gif" alt="D" /></strong></span></p>
<p>“Aduuh, liat deh si Freya, makin hari makin cakep aja… makin tinggi, tapi tetep kurus, hebat ya! Waah, ini baru keponakan tante! Tapi liat deh si Flor, kok makin hari makin lebar aja. Emang sih tinggi, tapi perutnya itu lho, sampe bisa berlapis-lapis! Kamu makan apa aja sih Flor, sampe bisa jadi kayak gini?” Pertanyaan sialan dari Tante Dina inilah penyebab utama kenapa aku mengunci diri di kamar sepanjang siang ini, tidak peduli di luar sana sedang ada pertemuan keluarga.</p>
<p>Aku jadi makin <em>upset</em> ketika Oom Deni bilang, “Flor, ngambil kuenya jangan banyak-banyak! Mau nambah bemper di perut lagi?” Ledekan ini langsung disambut dengan tawa semua orang. Langsung saja aku melangkah ke kamarku dan membanting pintunya. Biar semua tau, aku ini tersinggung berat dengan ledekan mereka yang sama sekali enggak lucu itu.</p>
<p>Emang sih, di usiaku yang ketigabelas ini, bodiku agak ‘raksasa’ dengan tinggi 163 cm dan berat badan 60 kg yang kadang-kadang bukannya turun malah naik terus ke puncak gunung. Ibuku emang pernah bilang sih, kalau pas aku SMA atau kuliah nanti, berat badanku pasti turun. Tapi masak mau diledek terus sampai SMA?????</p>
<p>Kehadiran adikku juga tidak membantu, malah memperparah. Orang-orang, seperti apa yang dilakukan Tante Dina tadi, sering banget mambandingkan aku dengan adikku, Freya. Mereka semua bilang kalau Freya itu cantik, tinggi, langsing, manis, ramah, penurut, pinter, de-es-be. Tapi bagiku, dia enggak lebih dari seorang bocah ingusan berumur sepuluh tahun yang manja dan nyusahin!!! Kulit Freya boleh hitam dan hidungnya mancung ke dalam, tapi orang-orang masih saja memuja ia. Ada aja yang bilang kalau Freya itu mirip Beyonce lah, mirip Rihanna lah, kayak Gisele Bundchen versi Indonesia lah, atau bahkan kayak Britney Spears versi Indonesia!!!</p>
<p>Enggak cuma itu aja. Di luar rumah, Freya emang jadi anak manis yang kalem, sopan, dan nurut. Tapi, di rumah, di langsung bertransformasi jadi bocah bau kencur yang manja, rewel, nyusahin, dan mau menang sendiri. Ada aja tingkahnya. Kadang-kadang nyebelin banget, sampai aku harus mencubit pahanya yang kayak paha ayam itu. Tapi, kalau udah begini, ia pasti langsung lari ke orangtuaku, lalu mengadu. Sehabis itu, mereka pasti langsung memarahiku tanpa mau mendengarkan penjelasan itu. Selalu.<br />
Kecuali tadi malam, saat Freya memakai buku catatan Geografiku untuk dijadikan kertas origami darurat. Aku langsung marah besar dan menamparnya. Masalahnya, di buku itu ada banyak catatan yang bisa membantuku menghafal pelajaran sialan itu. Setelah kutampar, Freya langsung mengadu ke orangtuaku. Ayahku langsung naik darah dan nyaris menamparku, tetapi aku langsung berteriak, “Kenapa sih Freya mulu yang didengerin, Flor enggak pernah didengerin????!!! Freya tuh udah make buku catatan Geo Flor buat dijadiin mainan!!!!!!! Ayah sama Ibu emang enggak pernah mau ngedengerin Flor, tapi, plis, buat kali ini aja dengerin alasan Flor, jangan dengerin Freya melulu!!!!” setelah berteriak seperti itu, aku langsung menghambur ke kamar dan menangis. Setelah itu, ibuku menyusul dan mencoba menenangkanku. Tapi aku tidak peduli, aku pura-pura tidur saja.</p>
<p>Satu-satunya orang yang tidak pernah meledekku adalah sahabatku sejak SD, Patra. Patra menganggap kecantikan fisik itu tidak berguna, yang penting adalah <em>inner beauty</em>. Inilah salah satu sebab dia masih jomblo sampai sekarang, meskipun Patra bisa dibilang adalah seorang cowok yang <em>perfect</em>. Patra itu cakep, pintar, jangkung, dan baik banget. tipe cowok dan sahabat yang sempurna lah. Tapi, Patra itu cukup selektif dalam memilih cewek. Bukan selektif sih, tapi prefeksionis!</p>
<p>Setelah bosan mengurung diri di dalam kamar, aku memutuskan untuk pergi ke rumah Patra. Kebetulan, rumahnya masih sekomplek dengan rumahku. Tapi sebelumnya mendingan aku telpon dulu si P-chan itu. Setelah menunggu selama 5 detik (sempet-sempetnya aja ngitung), akhirnya Patra mengangkat telponku juga.</p>
<p>“<em>Patra’s delivery service</em>… nganter apa aja, kemana aja, hayuk!”<br />
“Kalo anterin semua anggota keluarga gue ke neraka, mau nggak?”<br />
“Ya ampun Florecita… serem amat sih omongannya! Emangnya ada apaan sih?”<br />
“Tuh, keluarga gue. Nyolooooot banget!!!”<br />
“Nyolot gimana?”<br />
“Entar gue ceritain deh! Yang penting, elo ada di rumah nggak sekarang?”<br />
“Ada dong… kebetulan gue lagi sendiri nih. Kalo mau main, main aja.”<br />
“Ya udah… gue jalan ya… Assalamu’alaikum.”<br />
“Wa’alaikum salam… Titi DJ!”</p>
<p>Aku langsung keluar dari kamarku, lalu mengunci pintu kamarku. Ledekan-ledekan yang bikin kupingku panas mulai terdengar. “Endut, mau kemana? Ajak-ajak dong!” ledek Rio, sepupuku, anaknya Tante Dina. “Ibu sama anak nyolotnya sama,” gerutuku. Tanpa mempedulikan mereka, aku langsung berjalan ke carport dan menstarter motorku. Pertanyaan dari kedua orangtuaku juga tidak aku hiraukan. Setelah itu, aku langsung cabut ke rumah Patra.</p>
<p>Sesampainya di tujuan, aku langsung mengebel pintu rumahnya. Patra keluar, lalu berkata, “Wah, maaf ya Mbak, kita enggak mesen makanan tuh!” Aku langsung berteriak, “Gak usah banyak cincong deh! Cepetan bukain pintunya!” Patra tertawa, lalu membukakan pintu pagar dan menyuruhku masuk.</p>
<p>“Mau minum apa nih?” tanyanya ramah. Seperti biasa, kami ngobrol di ruang keluarga. Orangtua Patra sedang pergi ke Surabaya, mengurusi bisnis mereka. Patra itu anak tunggal, makanya dia bisa sendirian di rumah. Sama pembantu, sih. “<em>Fruit punch</em> dingin aja. Mas, enggak pake lama ya!” jawabku usil. Patra tertawa, lalu langsung melesat ke dapur. Patra emang selalu membuatkan minuman untukku. Katanya, cuma buat ‘sahabat tersayang’.</p>
<p>“Nah, ini minumannya, Mbak. Terus, ada masalah apa nih?” tanya Patra bersahabat. Langsung aku ceritakan dengan blak-blakan. Patra mendengarkan sambil menyeruput es tehnya. Selesai curhat, aku langsung bertanya, “Terus gimana nih Pat? Pusing gue diledek mulu! Kalo gue punya Death Note sih, nama semua orang yang udah ngeledek gue udah gue tulis semua disitu! Biar pada ko-it!”<br />
“Hush, emangnya elo Yagami Light atau Amane Misa. Udah, diemin aja, lama-lama juga mereka capek sendiri!” kata Patra menenangkanku. “Terus menurut elo, gue harus ngapain sih, biar bacot mereka pada diem semua?” tanyaku. Patra langsung menjawab, “Gampang… tonjolin aja inner beauty elo. Elo kan bisa ngomong Inggris, coba tunjukkin aja ke mereka.”<br />
“Udah. Mereka malah ngeledekin gue kalau gue ini Cinta Laura wannabe.”<br />
“Hmm, elo kan jago nyanyi, nyanyi aja di depan mereka!”<br />
“Udah. Mereka malah nyuruh si Freya ngegantiin gue pas lagi di tengah lagu.”<br />
“Cuci otak keluarga elo.”<br />
“Yaaaah, si Mas!!! Kalo bisa sih, dari kemarin juga udah gue cuci otak tuh manusia-manusia!!”<br />
“Hahahahaha… sebenernya cuma ada satu cara sih Flor. Elo musti diet.”</p>
<p>Aku mendengus. Akhirnya Patra mengatakan kata yang paling kubenci: diet. “Jangan diet doong!!! Elo tau kan, gue paling benci sama kata yang satu itu!” omelku. Patra tersenyum. Tiba-tiba, Patra bangkit, dan menarik tanganku. “Ayo, ikut gue ke kamar gue. gue mau ngomong sesuatu sama elo,” katanya. Aku nurut, daripada dijitak dia. Aku mengikuti Patra ke kamarnya di lantai dua.</p>
<p>Enggak biasanya, Patra menutup pintu kamarnya begitu kami masuk kamar. Aku panik. “Eh, eh, kok pintunya elo tutup sih! mau apa elo?” seruku sambil memasang kuda-kuda tae kwon do. Patra nyengir. “<em>Hold on</em>, Miss Florecita Kireicchi. Gue cuma mau ngomong tentang satu hal penting sama elo,” kata Patra. Tiba-tiba, kedua tangannya meraih tanganku.</p>
<p>“Florecita, sebenarnya udah lama gue pengen bilang ini ke elo. Gue sadar, gue sayang banget sama elo. Meskipun orang-orang bilang elo tuh gendut, aneh, dan lain-lain, gue bener-bener sayang same elo. Bukan cuma sebagai sahabat, tapi juga sebagai pacar,” kata Patra. Matanya menatap mataku dengan sungguh-sungguh. Ya ampun!!! Aku melting!!! Panggilin ambulans!!! Panggilin paramedis!!! Panggilin dukun beranak!!! Panggilin dukun beneran!!! Panggilin kiyai!!!!</p>
<p>Akhirnya, tanpa bantuan orang-orang yang tadi kusebutkan diatas, otot-otot mulutku bisa digerakkan lagi. “Ta… ta… tapi Pat… kita kan udah janji buat enggak pacaran selama SMP, bolehnya pas SMA??!!!” bisikku. Patra tersenyum hangat. “Gue masih bisa nunggu kok. Dua tahun kan sebentar, asal dijalanin dengan penuh makna. Sekalian, gue nunggu elo kurus… hehehe,” kata Patra sambil tertawa pelan. Aku meninju lengannya dengan lembut.</p>
<p>“Tapi Flor… elo sayang kan sama gue?” bisik Patra pelan. aku mengangguk. “Sayang banget. tapi, elo enggak malu apa dengan keadaan fisik gue?” bisikku khawatir. Patra mengangkat daguku. “Dengerin gue. Florecita Kireicchi, gue janji, mulai saat ini, gue akan ngebelain elo dari semua orang yang menghina keadaan fisik elo. Gue akan buktiin kalau hal terpenting dari seorang cewek adalah <em>inner beauty</em>-nya. Gue akan ngejagain elo, Flor. Selalu,” katanya. Ya ampun, aku terharu banget! Patra memelukku. Aku hanya bisa berkata, “Makasih, Pat. Makasih.”</p>
<p>Rumah, berbulan-bulan yang lalu (nggak inget).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/storiesbyputilicious.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesbyputilicious.wordpress.com&amp;blog=5870921&amp;post=13&amp;subd=storiesbyputilicious&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/17/yang-penting-isinya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67371df7b32f4d64fb4ac78b335617fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">PuTiLiciOUs</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://209.85.122.83/2/117/0/e8896/e8896.gif" medium="image">
			<media:title type="html">D</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I&#8217;m With You</title>
		<link>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/17/im-with-you/</link>
		<comments>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/17/im-with-you/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 05:38:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>storiesbyputilicious</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://storiesbyputilicious.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[Title: I&#8217;m With You Fandom: Original Fic Genre: Angst/Romance Rating: T Disclaimer: ceritanya punya saia&#8230;. dengan sedikit lirik Avril Lavigne di bawahnya Dingin. Gadis itu merapatkan jaketnya, menaikkan resletingnya. Pandangan matanya tak beralih dari danau yang menghampar di hadapannya. Dingin rantai ayunan yang digelantungi kedua tangannya menambah rasa dingin yang menggigiti kulitnya. Dingin besi bangku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesbyputilicious.wordpress.com&amp;blog=5870921&amp;post=10&amp;subd=storiesbyputilicious&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color:#80a0ff;">Title: I&#8217;m With You<br />
Fandom: Original Fic<br />
Genre: Angst/Romance<br />
Rating: T<br />
Disclaimer: ceritanya punya saia&#8230;. dengan sedikit lirik Avril Lavigne di bawahnya</span></strong></p>
<p>Dingin.</p>
<p>Gadis itu merapatkan jaketnya, menaikkan resletingnya. Pandangan matanya tak beralih dari danau yang menghampar di hadapannya. Dingin rantai ayunan yang digelantungi kedua tangannya menambah rasa dingin yang menggigiti kulitnya. Dingin besi bangku ayunan menembus celana jeans yang dipakainya, menambah rasa dingin yang makin menusuk. Meski begitu, ia tak pernah punya niat untuk bangkit dari ayunan dan mencari kehangatan.</p>
<p>Pedih.</p>
<p>Gadis itu mengusap dadanya, mengingat rasa sakit hatinya yang membuatnya lari ke danau ini dan merenung. Merenungi sebab-sebab mengapa hidupnya ini penuh dengan masalah. Ia stress. Depresi.</p>
<p>Orangtuanya memaksa dirinya untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal, termasuk dalam hal yang tidak mampu ia jalani. Adiknya selalu memfitnahnya dan menjadikannya orang yang selalu salah di mata kedua orangtuanya. Mereka kerap bertengkar hebat hingga tinju mereka berbicara. Sudah berkali-kali ia disumpahi mati oleh adiknya, dan ia pun melakukan hal yang sama. Ia harap adiknya tak pernah dilahirkan ke dunia ini.</p>
<p>Teman-temannya terlalu bergantung padanya, baik dalam masalah finansial maupun pelajaran. Ada PR, tugas, atau ulangan? Tanyalah jawabannya pada sang gadis. Kurang uang? Pinjamlah pada sang gadis. Tak harus dikembalikan kok. Begitu pendapat teman-teman si gadis. Siapa yang tidak depresi jika setiap hari selalu diperlakukan seperti itu?</p>
<p>***<br />
Seorang pemuda sebaya sang gadis berjalan dalam kecepatan yang konstan ke tempat dimana sang gadis berada. “Mau teh?” tawarnya pada sang gadis. Tanpa bicara sang gadis mengambil mug yang disodorkan sang pemuda. “Doumo arigatou… thanks…,” ucapnya lirih. Tanpa bicara, sang pemuda mengambil tempat di ayunan sebelah sang gadis. Sang pemuda mengambil ancang-ancang, lalu berayun. Rambutnya beterbangan diterpa angin, tersibak, menunjukkan paras rupawan yang nampak cerdas, pengertian, dan menyenangkan.</p>
<p>“Kekanak-kanakan sekali, sudah bangkotan begini masih bermain ayunan seperti itu,” dengus sang gadis. Sang pemuda, masih terus berayun, tertawa lepas. “Ah, biar. Aku kan memang kekanak-kanakan. Lagipula aku baru tujuh belas tahun. Kau harus berayun juga. Rasanya menyenangkan,” sahut sang pemuda. “Menyenangkan apanya. Aku malah makin kedinginan kalau ikut berayun. Jaketku tipis, tahu,” bantah sang gadis. Sang pemuda mendadak menghentikan laju ayunannya, lalu menatap wajah sang gadis dalam-dalam.</p>
<p>“Kau masih dipusingkan akan semua masalahmu?” tanya sang pemuda khawatir. Sang gadis mengangguk. Terdiam. Angin malam perlahan bertiup. “Ceritakanlah hidupmu dengan cara yang tak pernah kau gunakan sebelumnya,” pinta sang pemuda. Sang gadis tidak bereaksi. Masih memandang lurus ke depan. Bibirnya masih tertutup. Sang pemuda ikut memandang lurus ke depan. Menatap kelamnya air danau di kegelapan malam.</p>
<p>Untuk beberapa lama, tiada suara yang keluar dari bibir kedua insan itu. Yang ada hanya suara alam. Paduan suara para jangkrik bersahut-sahutan, beradu dengan paduan suara para katak laiknya dua paduan suara yang sedang beradu vokal. Burung hantu ber-uhu-uhu lembut dari dahan pohon. Desir ombak danau turut meramaikan suasana. Bulan purnama bersinar terang. Seharusnya ini bisa menjadi malam yang sangat indah dan romantis. Seharusnya.</p>
<p>“Aku bagaikan hidup di dalam lubang yang dalam, gelap, dan dingin…,” desah sang gadis memecah keheningan. “Dimana tak ada cahaya maupun jalan keluar…,” sambungnya lirih. Sang pemuda menoleh, menatap wajah cantik sang gadis yang tertutupi oleh kepedihan dan kegalauan yang teramat sangat ruwet. “Mengapa tak ada jalan keluar dan cahaya?” tanya sang pemuda. Sang gadis menutup kedua matanya, lalu menjawab dengan pedih, “Karena aku sudah terlalu lama terjatuh ke dalam lubang itu. Seluruh jalan keluar dan jalan cahaya telah tertutupi oleh seluruh batu kesalahanku. Sungguh tak ada jalan…”</p>
<p>“Tiadakah orang yang mampu menyelamatkanmu dari lubang itu?” tanya sang pemuda. Sang gadis perlahan menggeleng. “Sepertinya tiada…,” bisik sang gadis. Bulir-bulir airmata berjatuhan, mengalir di pipinya. “Apa kau benar-benar percaya akan hal itu?” tanya sang pemuda lirih. Kata-kata sang gadis laiknya jarum tajam yang turut menggores-gores hatinya.</p>
<p>Sang gadis perlahan mengangguk. Air matanya terus berjatuhan, menganak sungai di pipinya. Sang pemuda bangkit dari ayunan, lalu berlutut di hadapan sang gadis. “Tapi percayalah padaku. Masih ada seorang pangeran yang akan menyelamatkanmu,” ucapnya sungguh-sungguh. Sepasang mata lembutnya bertemu dengan sepasang mata sembab sang gadis. “A… apa maksdmu? Si&#8230; siapakah pangeran pemberani itu?” tanya sang gadis terbata-bata, kaget. Sang pemuda meraup tangan sang gadis, menggenggamnya, dan memberinya kehangatan.</p>
<p>“Pangeran itu&#8230; adalah aku&#8230;,” jawab sang pemuda sungguh-sungguh. Ia mengecup tangan sang gadis. Tak disangka-sangka, sang gadis langsung menubruk sang pemuda, merengkuhnya erat dalam lengannya. “Kuharap… kuharap kau benar-benar akan menyelamatkanku, pangeranku…,” isak sang gadis. Isakan terus mengalir dari bibirnya. Kali ini bukanlah isakan sedih. Bukan isakan marah. Bukan pula isakan frustasi. Melainkan isakan haru dan bahagia.</p>
<p>Paduan suara para jangkrik dan katak menyanyikan senandung alam yang merdu. Suara uhu-uhu burung hantu meningkahi senandung paduan suara itu. Kunang-kunang berterbangan, sinar bulan purnama terpantul di permukaan danau, dan jutaan cahaya bintang dari jutaan tahun lalu berkilauan di angkasa, memberikan backsound dan efek visual alami nan indah luar biasa. Seindah perasaan kedua insan manusia yang berada di sana.</p>
<p>It’s a damn cold night<br />
Trying to figure out this life<br />
Won’t you take me by the hand take me somewhere new<br />
Don’t know who you are, but I<br />
I’m with you…<br />
(Avril Lavigne – I’m With You)</p>
<p>Tangerang, 20-21 Oktober 2008.<br />
Inspired by Avril Lavigne’s song, I’m With You.</p>
<p>::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/storiesbyputilicious.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesbyputilicious.wordpress.com&amp;blog=5870921&amp;post=10&amp;subd=storiesbyputilicious&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/17/im-with-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67371df7b32f4d64fb4ac78b335617fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">PuTiLiciOUs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Why Me???</title>
		<link>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/17/why-me/</link>
		<comments>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/17/why-me/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2008 05:36:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>storiesbyputilicious</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://storiesbyputilicious.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Title: Why Me??? Fandom: Original Fic Genre: Angst/Tragedy/Hurt Rating: T/PG-13 Disclaimer: semuanya milikku!!!! MILIKKUU!!!! HUAHAHA!!! &#8211; digeplak - Sekarang aku mengerti apa yang dirasakan oleh para pelaku penembakan di SMA Columbine, USA, tahun 2004 lalu itu. Aku juga sudah mengerti apa yang dirasakan oleh Cho Seung-Hui, pelaku penembakan di Virginia Tech University April 2007 lalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesbyputilicious.wordpress.com&amp;blog=5870921&amp;post=8&amp;subd=storiesbyputilicious&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#5a70b3;"><strong>Title: Why Me???<br />
Fandom: Original Fic<br />
Genre: Angst/Tragedy/Hurt<br />
Rating: T/PG-13<br />
Disclaimer: semuanya milikku!!!! MILIKKUU!!!! HUAHAHA!!! &#8211; digeplak -</strong></span></p>
<p>Sekarang aku mengerti apa yang dirasakan oleh para pelaku penembakan di SMA Columbine, USA, tahun 2004 lalu itu. Aku juga sudah mengerti apa yang dirasakan oleh Cho Seung-Hui, pelaku penembakan di Virginia Tech University April 2007 lalu itu. Mereka itu korban bully alias gencet-gencetan, kan. Aku tahu karena aku sama seperti mereka, korban bully.</p>
<p>Pelaku utama pem-bully-an terhadapku adalah mantan teman dan sahabatku, Isabelle. Satu semester yang lalu, aku bertengkar hebat dengannya. Kami beradu mulut di depan gymnasium. Waktu itu, kami baru selesai latihan basket dan mau pulang. Tiba-tiba saja Isabelle menghampiriku dan melabrakku. Tentu saja aku tak tinggal diam. Aku bukan tipe cewek lemah yang bisa dianiaya seenaknya, mentang-mentang aku ini keturunan Asia.</p>
<p>Dia mengklaimku sudah mengata-ngatainya dan membicarakannya di belakang. Enak aja, memangnya aku nggak tahu dia juga melakukannya. Tanganku nyaris melayang untuk menampar mulutnya yang kurang ajar itu, jika saja Coach (Pelatih) McWhiten, guru olahraga kami tidak keluar dari gym. Saat itu juga, pertengkaran kami terhenti. Aku pulang dengan perasaan shock, marah, kesal, dan sedih.</p>
<p>Sehari setelah kejadian itu, aku tidak masuk sekolah. Aku terlalu shock, marah, kesal, dan sedih setelah peristiwa kemarin. Shock karena bisa-bisanya Isabelle melabrakku. Marah karena tingkahnya itu. Kesal karena ia melabrakku di depan umum. Sedih karena ia begitu saja memutuskan tali persahabatan yang sudah kami bina sejak TK itu. Sebelum peristiwa itu, Isabelle memang sudah mulai melancarkan perang dingin terhadapku. Tapi aku sama sekali tidak pernah membayangkan akan jadi seperti ini.</p>
<p>Setelah Isabelle melabrakku, ia mulai melancarkan serangan. Mudah saja baginya mem-bully-ku, karena aku adalah seorang Muslim dan keturunan Indonesia asli, anggota warga minoritas yang posisinya lemah. Ia buat seluruh sekolah percaya bahwa aku ini orang yang benar-benar menyebalkan. Ia sering mengata-ngataiku kalau ia berada di dekatku. Aku juga selalu menghabiskan makan siangku sendirian. Well, intinya ia berhasil membuat seluruh sekolah mengucilkanku.</p>
<p>Satu semester sudah aku di-bully. Aku capek. Aku sudah nggak tahan. Aku memang sudah menceritakan semua ini kepada ibuku, tapi Ibu tidak memberikan jalan keluar yang pasti untuk masalah ini. Ibu bilang, “Paris nggak salah. Kalo menurut Ibu, Isabelle itu iri atas kecerdasan yang ada sama Paris. Makanya, dia bikin semua orang benci sama Paris, biar dia ada temannya. Gak usah pindah sekolah, ini semua insya Allah pasti berakhir.” Itu kata-kata Ibu tiga bulan yang lalu. Nyatanya? Berakhir apanya? Ini malah jadi makin parah, Bu!!!</p>
<p>Sekarang aku duduk di meja belajarku, menulis surat perpisahan kepada keluargaku. Surat yang menyatakan bahwa aku tak tahan lagi menahan semua beban dan derita ini. Surat yang menyatakan bahwa aku sangat sayang kepada mereka, tetapi sayangnya di luar sana ada banyak pihak yang membenciku. Nah, selesai sudah. Sekarang aku mau shalat dulu, minta pengampunan yang sebesar-besarnya kepada Tuhan Yang Maha Esa, berterimakasih atas semua nikmat dan karunia yang ia berikan kepadaku.</p>
<p>Aku berjalan ke kamar mandi, lalu kunyalakan kran air yang ada di dinding kamar mandi. Perlahan aku membasuh semua bagian yang harus dibasuh. Tidak makan waktu lama, hanya lima menit. Setelah itu, aku membaca doa selesai wudhu dan keluar dari kamar mandi. Sambil menunggu azan Zuhur, aku mengambil tasbih dan berdzikir. Aku harus menimbun banyak pahala dahulu untuk menebus semua dosaku di dunia ini. Sepuluh menit aku berdzikir, akhirnya terdengar juga azan Zuhur. Aku langsung mendirikannya.</p>
<p>Selesai shalat, aku berdzikir lagi. Aku minta ampun kepada Tuhan. Maafkan aku, Ya Tuhan, aku sudah menyia-nyiakan nikmat yang Engkau berikan. Maafkanlah aku yang akan menghabisi nyawaku sendiri ini. Aku terlalu lemah untuk menghadapi semua cobaan yang Engkau berikan. Maafkan aku……</p>
<p>Kuusap mukaku dengan kedua tanganku. Kulipat mukena dan sajadahku. Selesai melipat mukena, kutatap fotoku yang sedang merangkul Isabelle. Dan fotoku yang sedang merangkul Jonathan Prince Al-Kareem a.k.a. JP, pacarku, penyemangatku selama ini. JP-lah satu-satunya orang yang mau menemaniku selama ini. JP-lah orang yang selalu mengirimkan kata-kata penyemangatku tiap pagi. Termasuk pagi ini. Karena itu, aku rasa aku harus mengirimkan kata-kata terakhirku dan terima kasihku kepadanya. Kurasa sms tidak cukup, aku harus mengirimkan sebuah e-mail kepadanya…</p>
<p>Oke, sebuah e-mail untuk JP yang berisi permintaan maaf, terima kasih, dan cintaku untuknya sudah kukirim. Aku tahu ia pasti akan membacanya, ia pasti sedang online kalau Minggu siang begini. Sekarang, tunggu apa lagi? Sebuah pisau sudah ada di depan mataku. Tinggal iris arteri dan vena-ku saja, aku pasti sudah meninggalkan kehidupan fana ini. Pikiranku nyaris rileks. Tapi, saat aku menatap foto diriku dengan Isabelle, kemarahanku memuncak lagi. Kutunda dulu kematianku. Kulempar foto itu ke seberang ruangan. Prang!!! Kaca pigura itu pecah saat menghantam dinding.</p>
<p>“Elo jahat, Isabelle!! Bertahun-tahun gue percaya sama elo, ternyata elo nusuk gue dari belakang??!! Gue benci elo!! Elo tuh ular berkepala dua!!!!! Elo nggak beda sama yang lain! Elo rasis!!!! Mentang-mentang gue salah satu dari segelintir Muslim di Los Angeles ini, elo bisa nge-bully gue, gitu!!!!!! Kenapa gue, Isabelle???!! Kenapa gue???!!! Why me????” raungku keras sambil melemparkan benda-benda di atas meja belajarku ke seberang ruangan. Kulemparkan handphone-ku, iPod-ku, dan semua benda duniawi lainnya. Dengan gaya dan daya yang kuberikan, mereka langsung berhamburan begitu menyentuh dinding seberang kamar. Benda-benda itu sama sekali tidak menolongku selama ini, justru mempersulitku. Isabelle selalu mengirimkan sms-sms penuh caci maki ke handphone-ku setiap malam. Gadget-gadget itu tidak berguna! Sampah!</p>
<p>Aku rasa aku benar-benar siap sekarang. Siap untuk meninggalkan dunia fana ini. Saat tanganku meraih pisau, Mrs. Pinéda, pembantu rumah tangga di rumahku, menggedor-gedor pintu kamarku yang kukunci. Ia pasti panik saat mendengarku membanting barang-barangku. Teriakan-teriakan paniknya terdengar kencang sekali. Dalam saat yang hampir bersamaan, handphone-ku menjerit. Dari ringtone-nya saja, aku sudah bisa mengetahui siapa yang menelepon: JP. Ia pasti panik setelah membaca e-mail yang kukirimkan. Dia pikir, teleponnya bisa membatalkan niatku. Huh, enak saja. Tekadku sudah bulat.</p>
<p>Aku tak mau menunggu lebih lama lagi. Langsung saja kuiris pergelangan tangan kiriku. Darah mengalir keras. Rasa sakit tak kuhiraukan. Aku terjatuh ke ranjang kematianku. Lama-kelamaan, teriakan panik dan gedoran pintu Mrs. Pinéda, juga jeritan handphone-ku memelan, seperti ada yang memutar tombol volume suara di speaker kehidupanku. Makin lama, suasana makin hening dan syahdu…</p>
<p>Aku menatap jasadku sendiri. Hei, rupanya belum ada orang yang sadar aku sudah tiada. Hebat. Baru sepuluh menit setelah aku mengiris pembuluh-pembuluh darahku. Brakk!!! Tiba-tiba, pintu kamarku didobrak oleh seseorang. Kulihat wajah orang itu. JP. Ia langsung meraih jasadku dan memeluknya. Ia periksa denyut nadiku. Sudah tak ada. Tangisnya pecah. Baru kali ini kulihat ia menangis, setelah bertahun-tahun aku menjadi pacarnya.</p>
<p>Orangtuaku dan adikku memasuki kamarku. Tangis mereka juga pecah. Ibu dan adikku langsung histeris menatap jasadku yang berlumuran darah. Bapak meraih surat yang kutinggalkan di meja belajar, lalu membacanya. Air mata meleleh di pipinya. Maafin Paris, Pak, batinku. Selesai membaca, Bapak memberikan surat itu ke Ibu dan Adik. Mereka bertiga menangis bersama. JP lalu memberikan print out e-mail yang kukirimkan kepadanya. Mereka berempat menangis bersama. Jasadku dibawa keluar kamar untuk dimandikan.</p>
<p>Aku sadar, sekarang aku bebas dari beban yang selama ini membebaniku. Aku melayang-layang ke seluruh penjuru rumah. Aku ingin menikmati kebebasan sesaat ini. Kebebasan sebelum menjalani siksaan yang sudah menungguku di alam kubur.</p>
<p>Tangerang, 03 Februari 2008.</p>
<p><span style="color:#5a70b3;"><strong>(A/N: Cerita ini pernah dimuat di Majalah Olga! Edisi tanggal 7 Agustus 2008)</strong></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/storiesbyputilicious.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesbyputilicious.wordpress.com&amp;blog=5870921&amp;post=8&amp;subd=storiesbyputilicious&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/17/why-me/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67371df7b32f4d64fb4ac78b335617fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">PuTiLiciOUs</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Yo!</title>
		<link>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/16/yo/</link>
		<comments>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/16/yo/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Dec 2008 16:45:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>storiesbyputilicious</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://storiesbyputilicious.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Ya, ini PuTiLiciOUs, seorang cewek sinting, gak sopan, kasar, cuek, nyebelin, dll. Tapi di sinilah gue akan menaruh karya-karya gue. Karya-karya hasil imajinasi liar gue. Semua postingan bisa dilihat di Last Posts atau Tulisan Terakhir. Dikomen yah. Critics and con.crits are allowed, but NO FLAMES allowed. Kalo nggak suka, tinggalin aja. Like it? Stay here. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesbyputilicious.wordpress.com&amp;blog=5870921&amp;post=3&amp;subd=storiesbyputilicious&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya, ini PuTiLiciOUs, seorang cewek sinting, gak sopan, kasar, cuek, nyebelin, dll. Tapi di sinilah gue akan menaruh karya-karya gue. Karya-karya hasil imajinasi liar gue.</p>
<p>Semua postingan bisa dilihat di Last Posts atau Tulisan Terakhir. Dikomen yah. Critics and con.crits are allowed, but NO FLAMES allowed. Kalo nggak suka, tinggalin aja.</p>
<p>Like it? Stay here. Don’t like it? Leave it.</p>
<p>Gitu aja kali yaaa&#8230;..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/storiesbyputilicious.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=storiesbyputilicious.wordpress.com&amp;blog=5870921&amp;post=3&amp;subd=storiesbyputilicious&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://storiesbyputilicious.wordpress.com/2008/12/16/yo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/67371df7b32f4d64fb4ac78b335617fb?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">PuTiLiciOUs</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
